Search

Jadi Orang Generalis VS Spesialis, Lebih Baik mana?

Updated: Sep 7, 2021


Masih banyak yang memperdebatkan lebih baik mana antara generalist maupun spesialist, terutama bagi yang merintis karier.

Bukan hal baru memang ketika memperdebatkan antara generalis maupun spesialis, karena di tahun 2008 silam pun, topik ini juga pernah ramai diperbincangkan setelah Malcolm Gladwell meluncurkan bukunya yang berjudul ‘Outliers : The Story of Success’. Klaim penulis yang menyatakan bahwa untuk menjadi suatu ahli atau spesialis dalam bidang tertentu membutuhkan waktu sekitar 10.000 jam dengan pendekatan latihan yang benar pun menjadi hangat diperdebatkan.


Generalis atau spesialis, mana yang paling dibutuhkan saat ini?


Seiring dengan era yang semakin berkembang memang membuat banyak orang khawatir terutama bagi kalangan milenial, fresh graduate, maupun bagi yang sedang merintis karier untuk menentukan mana yang paling dibutuhkan saat ini, apakah menjadi seorang generalis atau menjadi seorang spesialis?


Seorang generalis mungkin banyak dicari saat ini karena kita sedang berada di era yang serba cepat dan dinamis. Seorang generalis cenderung mudah beradaptasi dan memiliki beberapa keterampilan dasar.


Akan tetapi kita tidak mungkin selamanya hanya memiliki basic skills saja. Kita tidak memiliki identitas khusus yang bisa digunakan sebagai personal branding kita apabila kita tidak punya skill khusus atau skill yang mendalam pada suatu bidang. Bisa jadi kita akan stagnan di tempat karena kita hanya punya skill dasarnya saja.


Jadi harus pilih Generalis atau Spesialis?


Daripada harus memilih salah satu diantara menjadi seorang generalis ataupun spesialis, kenapa tidak memilih keduanya saja?

Kita punya pilihan menjadi generalis-spesialis, atau dalam psikologi pop juga dikenal sebagai T-Shaped.


Jika kita mengenal generalis sebagai seseorang yang berpengetahuan luas namun tidak mendalami suatu topik tertentu (-Shaped), dan Spesialis yang memiliki pemahaman yang mendalam terhadap suatu hal (I-shaped), maka T-Shaped menggabungkan keduanya.


T-Shaped People adalah orang yang memiliki setidaknya 1 keahlian khusus pada bidang tertentu dan memiliki pengetahuan yang cukup di bidang lainnya.


T-Shaped mempunyai banyak area skill yang ditunjukkan dengan bagian horizontal dari huruf T, dan menjadi ahli dalam satu atau beberapa bidang yang digambarkan pada bagian vertikal huruf T.


Contoh T-Shaped Person / Skill


Sebagai contoh ada seorang yang sangat ahli di bidang Social Media. Dia adalah seorang Social Media Strategist di suatu perusahaan.


Akan tetapi untuk menunjang kariernya, dia tidak hanya mempunyai skill di bidang social media saja, dia juga memiliki skill di bidang SEO, dia juga mampu membuat desain sederhana yang menarik serta dia memiliki skill dasar tentang copywriting.


Menjadi T-Shaped person artinya menjadi seseorang yang tidak berhenti belajar. Dia harus terus mengasah skill yang dia ahli di bidangnya sambil terus beradaptasi dengan skill - skill baru yang dapat menunjang kariernya.


Bagaimana menjadi T-Shaped person?


Caleb Meredith, seorang Product Engineers Airtable menuliskan bahwa terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjadi T-Shaped person, yakni :


1. Deepen your focus areas of deep expertise

Apapun area keahlianmu, get better at it.

Masih ingat salah satu quote dari Steve Jobs yang sangat terkenal? Stay Hungry, Stay Foolish.

Satya Nadella, CEO dari Microsoft baru-baru ini juga berbicara tentang ‘learn-it-all’ individuals ultimately doing better than ‘know-it-all’ people,


Kita harus punya growth mindset di mana kita harus terus lapar akan pengetahuan baru, penasaran dengan hal-hal baru terutama di bidang yang kita fokuskan. Semakin banyak kita belajar, kita akan merasa semakin banyak hal yang belum kita ketahui.


2. Go wide

Selain kita belajar pada bidang keahlian kita, kita juga harus up to date terhadap bidang keahlian di sekitar seperti pada tim kerja kita.

Mempeluas basis pengetahuan kita ke area yang berharga dan dapat digunakan oleh tim kita tentu sangat berguna untuk menunjang karier kedepannya.


Berusahalah untuk memiliki pemahaman yang lebih baik tentang setidaknya dasar-dasar spesialisasi orang lain di tim kita.


Kita juga bisa memperluas basis pengetahuan yang berada pada sekitar bidang keahlian yang kita fokuskan.

Seperti pada contoh di atas di mana kita memiliki spesialisasi pada bidang social media, kemudian kita memiliki basis pengetahuan di bidang lainnya seperti SEO, desain maupun copywriting.


3. Push at your boundaries, test your limits

Apakah kamu seorang Digital Marketer tapi suka masak? Apakah itu menjadi suatu masalah? Tentu saja tidak! Jalankan saja, bahkan kamu bisa memanfaatkan keduanya di mana kamu bisa membuat konten yang menarik seputar memasak, memanfaatkan berbagai channels dalam Digital Marketing untuk menyampaikan konten-kontenmu. Keren, kan??


Coba ingat dan serap kembali hal-hal yang membuatmu tertarik atau kamu punya hobi di situ. Siapa tau di antara beberapa hobi tersebut bisa ditarik garis yang saling menyambung dan bahkan bisa menjadi sumber penghasilan lainnya.


4. Take your side project seriously

Berhubungan dengan poin ke-3 tadi, di mana saat ini masih banyak yang memiliki hobi hanya untuk menghabiskan waktu di luar pekerjaan.


Setelah kita bisa menarik garis diantara beberapa hobi kita, coba dalami hal tersebut. Misalnya tadi kamu adalah seorang Digital Marketer yang hobi memasak, kamu bisa mengkombinasikan skill yang kamu miliki di bidang digial marketing dengan hobi di memasak. Bisa mulai dengan membuat konten memasak kemudian kamu distribusikan ke media sosial seperti instagram atau youtube, atau bisa juga kamu menulis artikel tentang memasak yang tentu saja didorong dengan pengetahuan dan kemampuamu di bidang digital marketing.


 

Perlahan paksa diri kita untuk keluar dari zona nyaman, di luar bidang keahlian kita, dan kita akan berada pada zona baru yang memaksa kita untuk terus belajar hal baru dan menjadi seorang spesialis di bidang baru juga.


Itu akan menjadikan karier kita lebih baik lagi dan bahkan kita bisa menikmati karier yang sedang kita perjuangkan.


 

Buat kamu yang sedang upgrade skill untuk menunjang karier kamu, silakan cek beberapa course dan sertifikasi yang tersedia di Dee:Kai Learning. Kamu dapat menemukannya di sini:


 

Buat kamu yang sedang menyusun karier impianmu, coba cek beberapa peluang karier yang ada di Bawatama, siapa tau inilah salah satu jalan menuju impian kariermu. Cek di sini: bawatama.com/career


Kamu juga bisa terus update terbaru mengenai karier dan pengembangan diri dengan mengikuti media sosial kami di:



 

Referensi:


 

Tentang Bawana Margatama


Bawana Margatama atau Bawatama adalah perusahaan penyedia jasa tenaga kerja atau yang lebih dikenal dengan outsourcing.


Bawatama saat ini banyak memegang client untuk tenaga kerja di bidang IT dan tidak terbatas pada bidang lainnya.


Bawatama akan terus memberikan informasi lowongan pekerjaan yang bisa di cek di halaman career.

Selain itu Bawatama juga menyediakan informasi seputar tips pengembangan diri dan pengembangan karier.


Bawatama memiliki anak perusahaan yaitu Duta Kuningan yang bergerak di bidang Training & Certification.

788 views0 comments

Recent Posts

See All